Social Network

Berpacu menjadi yang terbaik

Psikologi Kepemimpinan

diposting oleh novian-r-p-fisip08 pada 14 November 2011
di Asas asas Manajemen - 0 komentar

Setidak – tidaknya ada dua teori atau pendekatan penting yang relevan dengan pembicaraan tentang psikologi kepemimpinan. Yang pertama adalah teori tingkat kebutuhan Maslow, dan kedua teori kekuasaan French dan Raven. Abraham Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan manusia itu terbagi dalam lima tingkatan dalam hal urutan pemenuhannya, yaitu : 1. kebutuhan fisik. 2. kebutuhan akan keamanan, 3. kebutuhan social, 4. kebutuhan akan penghargaan, dan 5. kebutuhan aktualisasi diri.

Kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang berkenaan dengan kelangsungan hidup seseorang, seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Sedangkan kebutuhan keamanan berkenaan dengan kebutuhan seseorang akan perlingdungan dari bahaya dan ancaman keamanan baik fisik maupun non-fisik. Kebutuhan social bersangkutan dengan kebutuhan seseorang untuk bersosialisasi atau berhubungan dengan oranglain di dalam masyarakatnya. Sedangkan kebutuhan akan penghargaan atas apa yagn ada padanya seperti kemampuan, potensi, prestasi dansebagainya. Selanjutnya, kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan seseorang untuk menampilkan diri pada tingkat yang terbaik sesuai dengan potensinya, misalnya menjadi pekerja yang baik, olahragawan berprestasi, dan lain – lain.

Meskipun banyak kritik yang ditujukan kepada teori tingkat kebutuhan Maslow, tak dapat disangkal bahwa ia telah memberikan inspirasi bagi berbagai penelitian dan kajian dibidang keperilakuan pada masa – masa berikutnya.

Di lain pihak, French dan Raven mengemukakan bahwa ada lima sumber utama dengan mana seseorang mendapatkan kekuasaan. Kelima sumber kekuasaan itu adalah : 1. Kekuasaan paksaan, 2. Kekuasaan imbalan, 3. Kekuasaan legitimasi, 4. kekuasaan keahlian, dan 5. kekuasaan referensi.

Kekuasaan paksaan adalah kekuasaan yang didapat seseorang dengan menggunakan ancaman untuk mempengaruhi perilaku pengikutnya bila apa yang dikehendainya tidak dilaksanakan. Kekuasaan imbalan adalah kebalikannya, yaitu kekuasaan yang ada pada seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena kemampuan nya memberi imbalan atas apa yang dilakukannya. Kekuasaan legitimasi adalah kekuasaan yag didapat seseorang secara formal ditinjau dari struktur organisasi. Selanjutnya, kekuasaan keahlian yaitu kekuasaan yang ada pada seseorang karena keahliannya di bidang tertentu, sehingga dengan keahliannya itu ia memiliki pengaruh atas orang lain. Kekuasaan referensi adalah kekuasaan yang menggambarkan adanya referensi atau rujukan pada tokoh tertentu yang berpengaruh. Kekuasaan paksaan, imbalan, dan legitimasi pada dasarnya diyatakan secara tegas oleh posisi seseorang dalam organisasi. Orang – orang yang ada pada level organisasi yang lebih rendah memiliki kekuasaan paksaan, imbalan, dan legitimasi yang lebih rendah pula dibandingkan dengan mereka yang memiliki posisi yang lebih tinggi. Di lain pihak, kekuasaan keahlian dan referensi tidak selalu berkaitan dengan posisi seseorang dalam organisasi.

Proporsi psikologi kepemimpinan atau kepemimpinan dari sudut pandangan psikologi menyatakan bahwa fungsi utama seorang pemimpin adalah mengembangakan system motivasi yang efektif. Dalam hal ini si pemimpin haruslah mampu melakukan stimulasi terhadap bawahan atau pengukutnya sedemikian rupa agar dapat memberikan sumbangan positif bagi tujuan – tujuan organisasi, disamping memuaskan kebutuhan – kebutuhan pribadinya.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka teori tingkat kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (fisiologis, keamanan, social, penghargaan, dan aktualisasi diri) dapat menjadi model atau pedoman bagi pemimpin dalam mengembangkan system motivasi yang paling efektif. Seorang pemimpin , dengan pemahaman yang dalam bahwa seseorang tak hidup hayana dengan makan saja, tetapi juga memerlukan pertumbuhan psikologis, akan tetapi mengembangakan berbagai program yang mampu menghasilkan kontribusi optimal dari bawahannya. Tegasnya, suatu program yang memfokuskan diri pada semua sisi kebutuhan yang disebut di atas (fisiologis, keamanan, social, penghargaan, dan aktualisasi diri) dianggap memiliki probabilitas yang tinggi lebih tinggi dalam memotivasi daripada program yang bersifat parsial.

 



Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :